| Article Index |
|---|
| Sekilas dan Kondisi Umum Daerah Jawa Barat |
| Kondisi Umum Daerah Jawa Barat |
| All Pages |
a. Profil Jawa Barat
Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5°50' - 7°50' LS dan 104°48' - 104°48 BT. Luas wilayah Provinsi Jawa Barat Barat pada tahun 2008 adalah 34.816,96 Km2, terdiri atas 16 kabupaten dan 9 kota. Secara administrasi batas-batas Provinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut :
Sebagian besar wilayah kabupaten/kota di Jawa Barat berbatasan dengan laut, sehingga Wilayah Jawa Barat memiliki garis pantai cukup panjang, yaitu 755,83 Km.
- Utara : Laut Jawa
- Timur : Jawa Tengah
- Selatan : Samudra Hindia
- Barat : DKI Jakarta dan Provinsi Banten
Jawa Barat memiliki iklim tropis, selama ini suhu terendah tercatat 9o C yaitu di Puncak Gunung Pangrango dan suhu tertinggi tercatat 34oC di daerah pantai utara. Tetapi pada bulan Oktober 2008 yang baru saja berlalu, suhu di Jawa Barat sempat mencapai 35 oCelcius selama 3 – 4 pekan lamanya yang hampir merata dialami oleh seluruh daerah di Jawa Barat. Curah hujan rata-rata tahunan di Jawa Barat mencapai 2.000 mm/tahun, namun di beberapa daerah pegunungan bisa mencapai 3.000 - 5.000 mm/tahun.
Proses geologi yang terjadi jutaan tahun lalu menyebabkan Provinsi Jawa Barat – dengan luas 3,7 juta hektar- terbagi menjadi sekitar 60 % daerah bergunung dengan ketinggian antara 500–3.079 meter dpl dan 40 % daerah dataran yang memiliki variasi tinggi antara 0–500 meter dari permukaan laut . Wilayah pegunungan umumnya menempati bagian tengah dan selatan Jawa Barat. Pada bagian tengah dapat ditemukan gunung-gunung berapi aktif seperti Gunung. Salak (2.211 m), Gede-Pangrango (3.019 m) , Ciremai (3.078 m) dan Tangkuban Perahu (2.076) berpadu dengan deretan pegunungan yang sudah tidak aktif seperti Gunung Halimun (1.744 m), Gn. Ciparabakti (1.525 m) dan Gn. Cakrabuana (1.721 m). Demikian pula halnya di wilayah selatan, gunung-gunung berapi masih umum dijumpai seperti Gunung Galunggung (2.168 m), Papandayan (2.622 m), dan Guntur (2.249 m); bersama deretan pegunungan yang sudah tidak aktif seperti pegunungan selatan Jawa. Keadaan sebaliknya dijumpai di wilayah utara Jawa Barat yang merupakan daerah dataran sedang hingga rendah dengan didominasi oleh dataran aluvial. Daerah daratan Jawa Barat dapat dikelompokkan menjadi beberapa karakter sebagai berikut:
- daerah pegunungan curam di bagian selatan dengan ketinggian > 1.500 m dpl,
- daerah lereng bukit landai di bagian tengah dengan ketinggian 100-1.500 m dpl.
- daerah dataran rendah yang luas di bagian utara dengan ketinggian 0-10 m dpl.
Secara geologis daratan Jawa Barat merupakan bagian dari busur kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga ujung utara Pulau Sulawesi.
Menurut Balai Dinas Pengelolaan Air Provinsi Jawa Barat, di Jawa Barat terdapat 40 sungai yang berarti ada 40 Daerah Aliran Sungai (DAS), sebagaimana ditampilkan pada gambar berikut. DAS-DAS tersebut dikelompokkan lagi menjadi beberapa kelompok DAS. Kelompok yang memiliki area terluas adalah DAS Citarum disusul kemudian oleh Kelompok DAS Cisadane-Cimandiri.
Aspek iklim menunjukkan Jawa Barat merupakan daerah hampir selalu basah dengan curah hujan berkisar antara 1.000 - 6.000 mm, dengan pengecualian untuk daerah pesisir yang berubah menjadi kering pada musim kemarau. Pada daerah selatan dan tengah, intensitas hujan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah utara (gambar 2.4). Sementara untuk Daerah Aliran Sungai (DAS), bagian utara menjadi muara bagi beberapa sungai besar seperti Citarum, Cimanuk, Ciliwung dan Cisadane. Sedangkan di selatan terdapat lebih sedikit sungai besar yang mengalir ke arah Samudra Hindia, yaitu Citanduy dan Cimandiri. Keadaan berbeda juga ditemukan pada perairan laut yang membatasi Jawa Barat. Daerah utara berbatasan dengan Laut Jawa dengan perairan dangkal sementara di selatan bersebelahan dengan Samudra Hindia yang memiliki perairan dalam.
Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2007 adalah sebesar 41.483.729 jiwa. Pertumbuhan penduduk Jawa Barat termasuk tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Dalam kurun waktu 2003 – 2007 telah mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 2,13% / tahun.
Tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi terjadi di Kab. Bogor dan Kab. Tasikmalaya. Sebetulnya pertumbuhan penduduk di daerah sekitar Kota Bandung (tadinya termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung) termasuk dalam kategoori tinggi, namun karena adanya pemecahan wilayah Kabupaten Bandung menjadi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, maka secara numerik tingkat pertumbuhan penduduk di Kabupaten Bandung menjadi kecil.
Ditinjau dari tingkat kepadatannya, kepadatan penduduk tertinggi terjadi di Kota Bekasi, yaitu mencapai 36.433 jiwa / Ha dan Kota Cimahi sebesar 33.750 jiwa / Ha. Sedangkan kepadatan penduduk tinggi terdapat di Kota Depok, Bandung, Cirebon, Bogor, yaitu mencapai 12 sampai 22 ribu jiwa / Ha. Daerah dengan kepadatan penduduk relative rendah adalah Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan.
Tingkat kesehatan penduduk Jawa Barat terkait masalah lingkungan bisa ditinjau dari banyaknya penduduk yang mengalami sakit yang dirinci menurut jenis penyakitnya, khususnya penyakit yang diakibatkan oleh buruknya kualitas udara. Penyakit-penyakit tersebut antara lain adalah:
- Penyakit ISPA seperti batuk, pilek, sesak nafas.
- Penyakit kulit
- Penyakit perut.
Namun demikian data yang tersedia di Biro Pusat Statistik Jawa Barat tahun 2007 hanya mendata penderita beberapa jenis penyakit saja, yaitu panas, batuk, pilek dan sesak nafas. Sedangkan data mengenai penderita penyekit kulit dan penyakit perut tidak tersedia.
b. Kebijakan Pembangunan
Kebijakan pengelolaan lingkungan hidup daerah Jawa Barat mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Jawa Barat 2005 – 2025. Dalam RPJM tersebut, kebijakan pengelolaan lingkungan hidup merupakan kesatuan dengan kebijakan sumber daya alam. Dalam Misi Jawa Barat, pengelolaan lingkungan hidup termasuk dalam Misi ke 3, yaitu “terwujudnya lingkungan hidup yang asri dan lestari”. Kebijakan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup berikut agenda pengelolaan lingkungan hidup tahun 2008 – 2013 yang tercantum dalam RPJMD ditampilkan pada tabel berikut:
Sebetulnya “pendanaan untuk bidang lingkungan” tidak berdiri sendiri. Dalam perencanaan APBD, alokasi dana pembangunan dikelompok-kelompokkan menurut Misi Pembangunan Jawa Barat.
Dilihat dari jenis programnya, ada beberapa program pembangunan yang tidak semata-mata bertujuan untuk meningkatkan ataupun mengembalikan kualitas lingkungan hidup; melainkan program tersebut merupakan program pembangunan untuk meningkatkan kessejahteraan masyarakat, namun secara tidak langsung bisa meningkatkan ataupun mengembalikan kondisi lingkungan hidup, antara lain :
- Program No. 7 : Pengembangan Sarana dan Prasarana Perumahan dan Permukiman
- Program No. 15 : Pengembangan Usaha dan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan
- Program No. 21 : Pengembangan dan Pengelolaan Infrastruktur SDA dan Irigasi
- Program No. 23 : Pengembangan Kepariwisataan
- Program No. 35 : Penataan Ruang
Disamping itu ada juga program yang benar-benar ditujukan untuk meningkatkan dan mengembalikan kondisi lingkungan hidup yang rusak. Contoh program tersebut adalah:
- Program No. 36 : Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan
- Program No. 37 : Peningkatan Efektivitas Pengelolaan dan Konservasi SDA dan LH
- Program No. 38 : Pemantapan Kawasan Lindung
Berdasarkan data, besarnya anggaran untuk program pemulihan kualitas lingkungan di Jawa Barat selama 5 tahun terakhir tidak pernah lebih dari 2,25 % dari seluruh anggaran pembangunan daerah. Bahkan ada kecenderungan menurun. Jika tahun 2003 mendapat jatah 2,24 % dari total anggaran pembangunan, tahun 2008 hanya mendapatkan 1,25 % dari total anggaran pembangunan.
Upaya mewujudkan fungsi 45% Kawasan Lindung Jawa Barat pada Tahun 2010, telah berjalan selama empat tahun melalui kegiatan rehabiliasi lahan kritis dan penandaan batas kawasan lindung. Upaya rehabilitasi lahan kritis antara lain dilakukan melalui GRLK (Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis). Sisa lahan kritis sampai tahun 2007 mencapai 202.130,05 ha. Sementara untuk kegiatan penandaan batas telah dilaksanakan sepanjang 1.040 m selama tiga tahun dan dapat diselesaikan tahun 2007. Dari aspek kualitas udara perkotaan, tingkat aktivitas yang cukup tinggi terutama di daerah perkotaan yang mengakibatkan polusi udara yang cukup memprihatinkan. Kontribusi gas buang kendaraan bermotor terhadap polusi udara telah mencapai 60-70%. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa pada saat ini semakin banyak industri yang mulai menggunakan batu bara sebagai sumber energi yang berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara.
Sampai dengan tahun 2007, kualitas air sungai di Jawa Barat masih memperlihatkan kondisi yang memperihatinkan. Pencemaran sumberdaya air oleh industri maupun domestik menyebabkan kualitas air tersebut menjadi semakin buruk. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 7 sungai utama yaitu Cimanuk, Citarum, Cisadane, Kali Bekasi, Ciliwung, Citanduy dan Cilamaya, kesemuanya menunjukan status mutu D atau kondisi sangat buruk.
Demikian pula halnya dengan kondisi air tanah. Pengambilan air tanah yang meningkat dari tahun ke tahun berimplikasi terhadap penurunan muka air tanah. Penurunan muka air tanah secara drastis terutama terjadi di Cekungan Bandung yang mencapai penurunan sekitar 2 – 5 m per tahun.
Persoalan lingkungan lainnya yang dihadapi di Jawa Barat adalah belum tertanganinya kerusakan kawasan pesisir. Di wilayah pesisir utara Jawa Barat, kerusakan kawasan ditandai oleh kerusakan hutan bakau, abarasi pantai, serta pendangkalan muara sungai yang berdampak pada aktivitas lalulintas perahu. Tingkat abrasi yang terjadi di pantai selatan sekitar 35,35 ha/tahun dan di pantai utara sekitar 370,3 ha/tahun dengan indeks pencemar air laut antara 7,391-9,843 yang menunjukan sudah tercemar berat.
Luas wilayah Jawa Barat 3.647.392 Ha apabila dikaitkan dengan kondisi kemiringan lereng/topografi, sifat tanah dan curah hujan, menunjukan wilayah rawan bencana, sehingga Jawa Barat memerlukan kawasan lindung seluas 45%.
Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2007 sekitar 41.483.729 juta jiwa (Statistik Pembangunan Gubernur Jawa Barat, 2008) dengan laju pertumbuhan penduduk Jawa Barat adalah 1,83% per tahun, sehingga diperkirakan pada tahun 2010 jumlah penduduk akan menjadi 44 juta jiwa. Lebih dari 50% jumlah penduduk terkonsentrasi di perkotaan khususnya kota besar seperti di wilayah Bandung Raya, Bogor-Depok-Bekasi (BODEBEK) dan Cirebon.
Di sisi lain pertambahan penduduk dengan segala aktifitasnya yang dikhawatirkan melebihi daya dukung dan daya tampung lingkungannya, sehingga akan semakin mempercepat kerusakan lingkungan dan pada akhirnya akan berdampak buruk terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya. Oleh karena itu dengan luasan kawasan lindung 45% dapat terpenuhi, maka diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Jawa Barat, dengan didukung peningkatan luas kawasan budidaya yang lebih produkstif sebesar 55%.











Kondisi Umum Jawa Barat






Anda ingin download logo Prov. Jabar.