CHANGE COLOR
  • Default color
  • Brown color
  • Green color
  • Blue color
  • Red color
CHANGE LAYOUT
  • leftlayout
  • rightlayout
SET FONT SIZE
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Customise your homepage

Green & Smile Office - BPLHD - Propinsi Jawa Barat

Home Kondisi Umum Jawa Barat

Sekilas dan Kondisi Umum Daerah Jawa Barat

E-mail Print PDF
Article Index
Sekilas dan Kondisi Umum Daerah Jawa Barat
Kondisi Umum Daerah Jawa Barat
All Pages
1. Sekilas Jawa Barat (Jawa Barat at glance)
a. Profil Jawa Barat
Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5°50' - 7°50' LS dan 104°48' - 104°48 BT. Luas wilayah Provinsi Jawa Barat Barat pada tahun 2008 adalah 34.816,96 Km2, terdiri atas 16 kabupaten dan 9 kota. Secara administrasi batas-batas Provinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut :
  • Utara    :  Laut Jawa
  • Timur    :  Jawa Tengah
  • Selatan :  Samudra Hindia
  • Barat     :  DKI Jakarta dan Provinsi Banten
Sebagian besar wilayah kabupaten/kota di Jawa Barat berbatasan dengan laut, sehingga Wilayah Jawa Barat memiliki garis pantai cukup panjang, yaitu 755,83 Km.

Jawa Barat memiliki iklim tropis, selama ini  suhu terendah tercatat 9o C yaitu di Puncak Gunung Pangrango dan suhu tertinggi tercatat 34oC di daerah pantai utara. Sebagian kecil wilayah utara dan tenggara Jawa Barat memiliki curah hujan kategori menengah. Jumlah rata-rata hari hujan pada bulan Desember 2012 adalah 25 hari dengan suhu rata-rata 24,1OC, sedangkan suhu tertinggi 32,2 OC dan suhu terendah 15 OC. Kelembaban nisbi rata-rata 85% dan lama penyinaran matahari rata-rata 39%.

Proses geologi yang terjadi jutaan tahun lalu menyebabkan Provinsi Jawa Barat – dengan  luas 3,7 juta  hektar-  terbagi menjadi  sekitar 60 % daerah bergunung dengan ketinggian antara 500–3.079 meter dpl dan  40 %  daerah dataran yang memiliki variasi tinggi antara 0–500 meter dari permukaan laut . Wilayah pegunungan umumnya menempati bagian tengah dan selatan Jawa Barat. Pada bagian tengah dapat ditemukan gunung-gunung berapi aktif seperti Gunung. Salak  (2.211 m), Gede-Pangrango (3.019 m) , Ciremai (3.078 m) dan Tangkuban Perahu (2.076) berpadu dengan deretan pegunungan yang sudah tidak aktif seperti Gunung Halimun (1.744 m), Gn. Ciparabakti (1.525 m) dan Gn. Cakrabuana (1.721 m). Demikian pula halnya di wilayah selatan, gunung-gunung berapi masih umum dijumpai seperti Gunung Galunggung (2.168 m), Papandayan (2.622 m), dan Guntur (2.249 m); bersama deretan pegunungan yang sudah tidak aktif seperti pegunungan selatan Jawa. Keadaan sebaliknya dijumpai di wilayah utara Jawa Barat yang merupakan daerah dataran sedang hingga  rendah  dengan didominasi oleh dataran aluvial. Daerah daratan Jawa Barat dapat dikelompokkan menjadi beberapa karakter sebagai berikut:
  • daerah pegunungan curam di bagian selatan dengan ketinggian > 1.500 m dpl,
  • daerah lereng bukit landai di bagian tengah dengan ketinggian 100-1.500 m dpl.
  • daerah dataran rendah yang luas di bagian utara dengan ketinggian 0-10 m dpl.

Secara geologis daratan Jawa Barat merupakan bagian dari busur kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga ujung utara Pulau Sulawesi.
Menurut Balai Dinas Pengelolaan Air Provinsi Jawa Barat, di Jawa Barat terdapat 40 sungai yang berarti ada 40 Daerah Aliran Sungai (DAS), sebagaimana ditampilkan pada gambar berikut. DAS-DAS tersebut dikelompokkan lagi menjadi beberapa kelompok DAS. Kelompok yang memiliki area terluas adalah DAS Citarum disusul kemudian oleh Kelompok DAS Cisadane-Cimandiri.
Aspek iklim menunjukkan Jawa Barat merupakan daerah hampir selalu basah dengan curah hujan berkisar antara 1.000 - 6.000 mm, dengan pengecualian untuk daerah pesisir yang berubah menjadi kering pada musim kemarau. Pada daerah selatan dan tengah, intensitas hujan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah utara (gambar 2.4). Sementara untuk Daerah Aliran Sungai (DAS), bagian utara menjadi muara bagi beberapa sungai besar seperti Citarum, Cimanuk, Ciliwung dan Cisadane. Sedangkan di selatan terdapat lebih sedikit sungai besar yang mengalir ke arah Samudra Hindia, yaitu Citanduy dan Cimandiri. Keadaan berbeda juga ditemukan pada perairan laut yang membatasi Jawa Barat. Daerah utara berbatasan dengan Laut Jawa dengan perairan dangkal sementara di selatan bersebelahan dengan Samudra Hindia  yang memiliki perairan dalam.
Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2012 adalah sebesar  45.826.775 jiwa. Pertumbuhan penduduk Jawa Barat termasuk tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Dalam kurun waktu 2000 – 2010 telah mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 1,89 % / tahun.

Tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi terjadi di Kab. Bogor dan Kab. Tasikmalaya. Sebetulnya pertumbuhan penduduk di daerah sekitar Kota Bandung (tadinya termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung) termasuk dalam kategoori tinggi, namun karena adanya pemecahan wilayah Kabupaten Bandung menjadi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, maka secara numerik tingkat pertumbuhan penduduk di Kabupaten Bandung menjadi kecil.

Jumlah penduduk terbesar berada di kabupaten Bogor dengan jumlah penduduk 4.857.612 jiwa dengan kepadatan penduduk 1.620,75 jiwa/km2, sedangkan jumlah penduduk terkecil berada di kota Banjar dengan jumlah penduduk 178.302 jiwa dengan kepadatan penduduk 1.362,54 jiwa/km2. Kepadatan penduduk terbesar berada di Kota Bandung yaitu sebesar 14.491,32 jiwa/km2 dengan luas lahan sebesar 168,23 km2.

Tingkat kesehatan penduduk Jawa Barat terkait masalah lingkungan bisa ditinjau dari banyaknya penduduk yang mengalami sakit yang dirinci menurut jenis penyakitnya, khususnya penyakit yang diakibatkan oleh buruknya kualitas udara. Penyakit-penyakit tersebut antara lain adalah:
  • Penyakit ISPA seperti batuk, pilek, sesak nafas.
  • Penyakit kulit
  • Penyakit perut.

Berdasarkan data dari Suseda Jawa Barat, pada tahun 2012 sebesar 47,77% masyarakat menderita penyakit ISPA (batuk, pilek, sesak nafas); 20,02% menderita penyakit panas, 7,09% menderita sakit kepala, 1,86% menderita sakit gigi, 2,34% menderita penyakit perut (diare/buang air) dan sebesar 16,92% menderita penyakit lainnya.

b. Kebijakan Pembangunan

Kebijakan pengelolaan lingkungan hidup daerah Jawa Barat mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Jawa Barat 2005 – 2025. Dalam RPJM tersebut, kebijakan pengelolaan lingkungan hidup merupakan kesatuan dengan kebijakan sumber daya alam. Dalam Misi Jawa Barat, pengelolaan lingkungan hidup termasuk dalam Misi ke 3, yaitu “terwujudnya lingkungan hidup yang asri dan lestari”. Kebijakan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup berikut agenda pengelolaan lingkungan hidup tahun 2008 – 2013 yang tercantum dalam RPJMD ditampilkan pada tabel berikut:

Sebetulnya “pendanaan untuk bidang lingkungan” tidak berdiri sendiri. Dalam perencanaan APBD, alokasi dana pembangunan dikelompok-kelompokkan menurut Misi Pembangunan Jawa Barat.

Dilihat dari jenis programnya, ada beberapa program pembangunan yang tidak semata-mata bertujuan untuk meningkatkan ataupun mengembalikan kualitas lingkungan hidup; melainkan program tersebut merupakan program pembangunan untuk meningkatkan kessejahteraan masyarakat, namun secara tidak langsung bisa meningkatkan ataupun mengembalikan kondisi lingkungan hidup, antara lain :
  • Program No. 7   :  Pengembangan Sarana dan Prasarana Perumahan dan Permukiman
  • Program No. 15 : Pengembangan Usaha dan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan
  • Program No. 21 : Pengembangan dan Pengelolaan Infrastruktur SDA dan Irigasi
  • Program No. 23 : Pengembangan Kepariwisataan
  • Program No. 35 : Penataan Ruang

Disamping itu ada juga program yang benar-benar ditujukan untuk meningkatkan dan mengembalikan kondisi lingkungan hidup yang rusak. Contoh program tersebut adalah:

  • Program No. 36 : Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan
  • Program No. 37 : Peningkatan Efektivitas Pengelolaan dan Konservasi SDA dan LH
  • Program No. 38 : Pemantapan Kawasan Lindung

Berdasarkan data, besarnya anggaran untuk program pemulihan kualitas lingkungan di Jawa Barat selama 5 tahun terakhir tidak pernah lebih dari 2,25 % dari seluruh anggaran pembangunan daerah.  Bahkan ada kecenderungan menurun. Jika tahun 2003 mendapat jatah 2,24 % dari total anggaran pembangunan, tahun 2008 hanya mendapatkan 1,25 % dari total anggaran pembangunan.

 

 


Berdasarkan fungsinya, hutan lindung di Provinsi Jawa Barat memiliki luas 291 ribu ha atau 28% dari luas kawasan hutan secara keseluruhan. Dominasi fungsi kawasan hutan adalah hutan produksi dan hutan produksi terbatas yang memiliki proporsi masing-masing 37% dan 18%, yang menunjukkan besarnya fungsi ekonomi kawasan hutan di Jawa Barat.

Secara umum kondisi lahan kritis di Jawa Barat mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Majalengka adalah kabupaten yang memiliki proporsi luas lahan kritis terbesar yaitu masing-masing sebanyak 15% dari total keseluruhan lahan kritis yang ada.

 

Dari aspek kualitas udara perkotaan, tingkat aktivitas yang cukup tinggi terutama di daerah perkotaan yang mengakibatkan polusi udara yang cukup memprihatinkan. Kontribusi gas buang kendaraan bermotor terhadap polusi udara telah mencapai 60-70%. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa pada saat ini semakin banyak industri yang mulai menggunakan batu bara sebagai sumber energi yang berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara.

Sampai dengan tahun 2012, kualitas air sungai di Jawa Barat masih memperlihatkan kondisi yang memperihatinkan. Pencemaran sumberdaya air oleh industri maupun domestik menyebabkan kualitas air tersebut menjadi semakin buruk. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 7 sungai utama yaitu Cimanuk, Citarum, Cisadane, Kali Bekasi, Ciliwung, Citanduy dan Cilamaya, kesemuanya menunjukan status mutu D atau kondisi sangat buruk.

Demikian pula halnya dengan kondisi air tanah. Pengambilan air tanah yang meningkat dari tahun ke tahun berimplikasi terhadap penurunan muka air tanah. Penurunan muka air tanah secara drastis terutama terjadi di Cekungan Bandung yang mencapai penurunan sekitar 2 – 5 m per tahun.

Persoalan lingkungan lainnya yang dihadapi di Jawa Barat adalah belum tertanganinya kerusakan kawasan pesisir. Di wilayah pesisir utara Jawa Barat, kerusakan kawasan ditandai oleh kerusakan hutan bakau, abarasi pantai, serta pendangkalan muara sungai yang berdampak pada aktivitas lalulintas perahu. Tingkat abrasi yang terjadi di pantai selatan sekitar 35,35 ha/tahun dan di pantai utara sekitar 370,3 ha/tahun dengan indeks pencemar air laut antara 7,391-9,843 yang menunjukan sudah tercemar berat.

Luas wilayah Jawa Barat 3.647.392 Ha apabila dikaitkan dengan kondisi  kemiringan lereng/topografi, sifat tanah dan curah hujan, menunjukan wilayah rawan bencana, sehingga Jawa Barat memerlukan kawasan lindung seluas 45%.

 

Last Updated ( Friday, 12 April 2013 22:14 )  

Quotes

"The oceans are in trouble; the coasts are in trouble; our marine resources are in trouble. These are not challenges we can sweep aside."
James Watkins, Admiral, US Navy (Ret.);
head of US Commission on Ocean Policy

Follow Us


BPLHD Provinsi Jawa Barat

  • Alamat : Jl. Naripan No: 25 Bandung 40111
  • Telp : 022 - 4204871
  • Fax : 022 - 4231570
  • Email  : bplhd@bplhdjabar.go.id
  • Website : http://www.bplhdjabar.go.id/