Upaya mewujudkan fungsi 45% Kawasan Lindung Jawa Barat pada Tahun 2010, telah berjalan selama empat tahun melalui kegiatan rehabiliasi lahan kritis dan penandaan batas kawasan lindung. Upaya rehabilitasi lahan kritis antara lain dilakukan melalui GRLK (Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis). Sisa lahan kritis sampai tahun 2007 mencapai 202.130,05 ha. Sementara untuk kegiatan penandaan batas telah dilaksanakan sepanjang 1.040 m selama tiga tahun dan dapat diselesaikan tahun 2007. Dari aspek kualitas udara perkotaan, tingkat aktivitas yang cukup tinggi terutama di daerah perkotaan yang mengakibatkan polusi udara yang cukup memprihatinkan. Kontribusi gas buang kendaraan bermotor terhadap polusi udara telah mencapai 60-70%. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa pada saat ini semakin banyak industri yang mulai menggunakan batu bara sebagai sumber energi yang berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara.
Sampai dengan tahun 2007, kualitas air sungai di Jawa Barat masih memperlihatkan kondisi yang memperihatinkan. Pencemaran sumberdaya air oleh industri maupun domestik menyebabkan kualitas air tersebut menjadi semakin buruk. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 7 sungai utama yaitu Cimanuk, Citarum, Cisadane, Kali Bekasi, Ciliwung, Citanduy dan Cilamaya, kesemuanya menunjukan status mutu D atau kondisi sangat buruk.
Demikian pula halnya dengan kondisi air tanah. Pengambilan air tanah yang meningkat dari tahun ke tahun berimplikasi terhadap penurunan muka air tanah. Penurunan muka air tanah secara drastis terutama terjadi di Cekungan Bandung yang mencapai penurunan sekitar 2 – 5 m per tahun.
Persoalan lingkungan lainnya yang dihadapi di Jawa Barat adalah belum tertanganinya kerusakan kawasan pesisir. Di wilayah pesisir utara Jawa Barat, kerusakan kawasan ditandai oleh kerusakan hutan bakau, abarasi pantai, serta pendangkalan muara sungai yang berdampak pada aktivitas lalulintas perahu. Tingkat abrasi yang terjadi di pantai selatan sekitar 35,35 ha/tahun dan di pantai utara sekitar 370,3 ha/tahun dengan indeks pencemar air laut antara 7,391-9,843 yang menunjukan sudah tercemar berat.
Luas wilayah Jawa Barat 3.647.392 Ha apabila dikaitkan dengan kondisi kemiringan lereng/topografi, sifat tanah dan curah hujan, menunjukan wilayah rawan bencana, sehingga Jawa Barat memerlukan kawasan lindung seluas 45%.
Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2007 sekitar 41.483.729 juta jiwa (Statistik Pembangunan Gubernur Jawa Barat, 2008) dengan laju pertumbuhan penduduk Jawa Barat adalah 1,83% per tahun, sehingga diperkirakan pada tahun 2010 jumlah penduduk akan menjadi 44 juta jiwa. Lebih dari 50% jumlah penduduk terkonsentrasi di perkotaan khususnya kota besar seperti di wilayah Bandung Raya, Bogor-Depok-Bekasi (BODEBEK) dan Cirebon.
Di sisi lain pertambahan penduduk dengan segala aktifitasnya yang dikhawatirkan melebihi daya dukung dan daya tampung lingkungannya, sehingga akan semakin mempercepat kerusakan lingkungan dan pada akhirnya akan berdampak buruk terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya. Oleh karena itu dengan luasan kawasan lindung 45% dapat terpenuhi, maka diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Jawa Barat, dengan didukung peningkatan luas kawasan budidaya yang lebih produkstif sebesar 55%.











Kondisi Umum Jawa Barat


Anda ingin download logo Prov. Jabar.