CHANGE COLOR
  • Default color
  • Brown color
  • Green color
  • Blue color
  • Red color
CHANGE LAYOUT
  • leftlayout
  • rightlayout
SET FONT SIZE
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Customise your homepage

Green & Smile Office - BPLHD - Propinsi Jawa Barat

Home Isu-Isu Srategis Permasalahan Pencemaran

Permasalahan Pencemaran

E-mail Print PDF

02. Permasalahan Pencemaran, baik pencemaran air, udara maupun tanah yang skala penyebarannya sudah cukup meluas, utamanya bersumber dari industri, rumah tangga, usaha-usaha kecil dan pasar dengan segala jenis limbahnya, terutama sampah dari rumah tangga.

Air Permukaan
Semua sungai di Jawa Barat dan wilayah-wilayah perkotaan Bogor, Depok, Bekasi, Bandung dan Cirebon tidak cocok untuk pemakaian langsung.  Sungai-sungainya sangat kotor terutama di bagian hilir sehingga tidak bisa digunakan untuk berbagai aktivitas kehidupan.
Sekitar 19% penduduk membuang langsung limbah/tinja ke badan-badan air, menggambarkan adanya muatan organik (sekitar 4400 ton fosfor per tahun) yang dibuang langsung. Tidak ada data berapa jumlah sesungguhnya P dan N yang melewati saluran-saluran di perkotaan yang masuk ke sungai akibat pembuangan limbah/tinja tersebut dan rembesan dari septic tanks.
Pabrik tekstil dan industri garmen adalah tidak hanya sebagai sumber polusi organik, melainkan yang lebih penting adalah polusi logam berat, pestisida, detergen dan zat pewarna. Dampaknya berupa berubahnya keasaman air yang menurunkan kemampuan badan air untuk menopang kehidupan. Logam berat, minyak, dan hidrokarbon lainnya, asam dan alkalis adalah tipe polutan yang berasal dari industri logam dan kendaraan bermotor. Logam-logam berat yang paling banyak berasal dari industri tekstil, cat, dan kendaraan bermotor adalah cadmium, chromium, copper, timbal, mercury, nikel dan seng.

Air Tanah
Di daerah pedesaan Jawa Barat diperkirakan baru 11% penduduk yang telah mendapat sambungan pipa air bersih, sementara di daerah perkotaannya telah mencapai 33%.
Diperkirakan sekitar 68% penduduk pedesaan dan 48% penduduk kota di Jawa Barat memenuhi kebutuhan airnya dari sumber air di lapangan. Jadi, kemungkinan 25 – 30 juta penduduk, kesehatan dan kesejahteraannya bergantung pada kualitas airtanah yang ada.
Sumber pencemaran dan jenisnya tergantung pada tipe air tanah yang disadap. Di wilayah pesisir, sumur-sumur dangkal terkontaminasi oleh intrusi air asin. Disamping itu sumur-sumur dangkal sangat rawan terhadap kontaminasi bakteri dan zat beracun dari air limpasan dan lindian dari tempat pembuangan sampah.

Udara
Pencemaran udara berdampak buruk terhadap kesehatan manusia, hewan maupun tanaman. Dampaknya terjadi karena perubahan lingkungan pada ekosistem yang merusak benda-benda seperti karet, cat dan logam.
Kesehatan manusia terkena dampak oleh partikulat (PM10 dan PM2.5) dan oleh gas SO2, NOx, HC dan O3. Polutan-polutan ini berasal dari kendaraan bermotor, rumah tangga dan pembakaran sampah, serta proses industri.
Sebuah penelitian (Djuangsih, 1984; Haryanto, 1993) menunjukkan bahwa 30-46% sopir angkutan kota dan polisi lalulintas dan 50% dari pedagang asongan dan kaki lima di kota Bandung mempunyai kadar timbal di dalam darah  PbB> 40 mg/dL, yaitu batas aman konsentrasi timbal untuk manusia dewasa yang sering terpajang. Gangguan kesehatan akibat tingginya kadar timbal di dalam darah adalah hipertensi, masalah cardiovascular, hati, sistem saraf, kanker, dan penurunan daya tahan / kekebalan.
BPLHD telah menelusuri kualitas udara di Kota Bandung dengan mengukur nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) harian dan bulanan antara tahun 2000 dan 2003. Hasilnya menunjukkan bahwa parameter kritis selama itu adalah PM10 dan Ozone. Dari pendataan ISPU menunjukkan bahwa Bandung hanya mempunyai 55 hari sehat sepanjang  tahun 2003 tersebut.

Pengelolaan Sampah
Hingga kini, baru TPA Kota Bekasi yang sepenuhnya memenuhi kriteria persyaratan tersebut. Dari 59 TPA yang ada di Jawa Barat, hanya 5 saja yang mempunyai luas 10 ha, dan ada 10 TPA dengan luas tapaknya masing-masing satu hektar atau kurang dari satu hektar.
Dari 59 TPA resmi di Jawa Barat tersebut seluruhnya dioperasikan sebagai tapak “open dumping”,  sehingga memberikan kontribusi terhadap pencemaran air yaitu dengan meresapnya air lindian kedalam air tanah, juga terangkutnya lindian bersama-sama dengan air larian (runoff), dan terhadap pencemaran udara yaitu melalui hembusan asap pembakaran sampah di TPA. Lokasi TPA juga berbahaya terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja, khususnya terhadap para pemulung liar yang mengais nafkahnya di lokasi TPA. Sementara itu, 12 TPA yang semula dirancang sebagai “sanitary land fill”, ternyata tidak dioperasikan sesuai rencana karena terbatasnya tenaga operator yang terlatih, atau terbatasnya sarana penunjang untuk mengoperasikan TPA tersebut.
Di Indonesia belum ada undang-undang tentang pengelolaan sampah secara nasional. Dengan perkecualian untuk Kota Bandung, pembuangan sampah dikoordinasi oleh sektor publik di bawah instansi/dinas khusus. Tergantung daerahnya, instansi ini mungkin bernama Dinas Kebersihan atau Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Pada umumnya instansi-instansi ini hanya sedikit memiliki staf yang profesional, kurang memahami bagaimana mengelola persampahan dan dampaknya terhadap lingkungan.

Limbah Bahan Berbahaya
Di Indonesia telah mempunyai satu tempat atau stasiun resmi yang dirancang dan dikelola untuk pengolahan limbah berbahaya tersebut, yaitu di Cileungsi, Kabupaten Bogor. Fasilitas yang ada di stasiun tersebut dioperasikan oleh perusahaan swasta PT PPLI-B3, dimana pemerintah secara terus menerus mengawasi kinerja perusahaan patungan dengan mitra nasional dan internasional tersebut. Hingga tahun 1999, stasiun tersebut telah menerima kiriman limbah B3 dari 540 industri pelanggan, dan akan terus ditingkatkan dalam memproses limbah B3 tersebut sejalan dengan makin luasnya permintaan dari industri itu sendiri.

Last Updated ( Wednesday, 21 January 2009 14:16 )  

Quotes

"The oceans are in trouble; the coasts are in trouble; our marine resources are in trouble. These are not challenges we can sweep aside."
James Watkins, Admiral, US Navy (Ret.);
head of US Commission on Ocean Policy

Follow Us


BPLHD Provinsi Jawa Barat

  • Alamat : Jl. Naripan No: 25 Bandung 40111
  • Telp : 022 - 4204871
  • Fax : 022 - 4231570
  • Email  : bplhd@bplhdjabar.go.id
  • Website : http://www.bplhdjabar.go.id/