Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap Pb karena sistem otak dan syarafnya belum berkembang penuh, sehingga penyerapan Pb dibandingkan proporsi berat tubuh jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa timbal yang terserap oleh anak, walaupun dalam jumlah kecil, dapat menyebabkan gangguan pada fase awal pertumbuhan fisik dan mental yang kemudian berakibat pada fungsi kecerdasan dan kemampuan akademik.
Penelitian yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung tahun 2005 tentang kadar timbal dalam darah anak-anak Sekolah Dasar (SD), menunjukkan bahwa dari 400 anak-anak SD yang tersebar di Kota Bandung yang diteliti rata-rata melebihi ambang batas (10 µg/dL) adalah 264 orang (66% dari jumlah sampel), kondisi ini menunjukkan tingkat pencemaran timbal yang berbahaya di Kota Bandung, sehingga dapat disimpulkan adanya korelasi positif antara kadar timbal dalam darah dengan tingkat kecerdasan (IQ) pada anak-anak sekolah.
Pemeriksaan kadar timbal dalam rambut remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) dilaksanakan oleh BPLH Kota Bandung pada tahun 2005. Sebanyak 30 siswa berusia rata-rata 17 tahun diperiksa dengan cara mengambil cuplikan rambut kemudian dianalisis di laboratorium. Rata-rata hasil pemeriksaan menunjukkan melebihi ambang yang disarankan London Laboratory Services Group (1,5 ppm). Studi menunjukkan bahwa siswa telah terpajan timbal dalam jangka waktu yang lama, terutama siswa yang bertempat tinggal di wilayah dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi (Sumber: BPLH Kota Bandung).
Untuk menindaklanjuti kebijakan tersebut, maka Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat melakukan pemantauan Pb pada anak-anak di beberapa sekolah, dimana dalam pelaksanaannya berkoordinasi dan melibatkan dinas kesehatan dan instansi-instansi terkait.

















Anda ingin download logo Prov. Jabar.