Perubahan tata guna lahan dan kerusakan lingkungan di Jawa Barat juga berpengaruh terhadap berkurangnya wilayah hidup keanekaragaman hayati sehingga berimplikasi negatif pada kuanti tas dan kualitas keanekaragaman hayati Jawa Barat. Badan konservasi dunia IUCN pada tahun 2008 mencatat bahwa 5 jenis mamalia, 7 jenis burung dan 8 jenis amfibi reptil di Jawa Barat terancam kepunahan. Salah satu satwa/ hewan endemik Jawa Barat yang terancam punah adalah kura-kura Belawa.
Keberadaan kura-kura Belawa yaitu di Desa Belawa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon dengan populasi kura-kura ini berjumlah 100 ekor dengan usia kura-kura tertua berumur 120 tahun. Satu diantara faktor yang mempengaruhi populasi satwa ini adalah kualitas air sungai yang menjadi habitatnya. Saat ini sedang diupayakan untuk membudidayakan satwa ini sehingga diharapkan populasinya terus bertambah.
Upaya lain dalam pelestarian satwa dan tumbuhan di Jawa Barat yaitu pelepas liaran 5 ekor Owa Jawa hasil sitaan dari pedagang liar ke habitat alaminya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada bulan Oktober 2009. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengelolaan keanekaragaman hayati adalah dengan penguatan informasi melalui sharing informasi dalam suatu jaringan internet yang dinamakan potal Balai Kliring Kehati. Diharapkan balai kliring ini dapat menjadi media pertukaran informasi dan pengembangan kerjasama.
Selain wilayah pegunungan, Jawa Barat memiliki 2 (dua) kawasan pesisir dan laut yaitu pesisir utara dan pesisir selatan Jawa Barat. Karakteristik wilayah pesisir pantura Jawa Barat merupakan daerah landai dan berlumpur serta banyak bermuara sungai dari wilayah tengah sehingga mangrove cocok untuk tumbuh di wilayah ini. Adapun pesisir pansela merupakan daerah bertebing dan berpasir sehingga sedikit sekali ditemukan mangrove di wilayah ini kecuali disekitar muara sungai.
Selain wilayah pegunungan, Jawa Barat memiliki 2 (dua) kawasan pesisir dan laut yaitu pesisir utara dan pesisir selatan Jawa Barat. Karakteristik wilayah pesisir pantura Jawa Barat merupakan daerah landai dan berlumpur serta banyak bermuara sungai dari wilayah tengah sehingga mangrove cocok untuk tumbuh di wilayah ini. Adapun pesisir pansela merupakan daerah bertebing dan berpasir sehingga sedikit sekali ditemukan mangrove di wilayah ini kecuali disekitar muara sungai.

Kerusakan hutan mangrove ini secara umum dikarenakan alih fungsi lahan terutama menjadi areal tambak, dan ada persepsi yang keliru dimana keberadaan mangrove mengganggu budidaya perikanan tambak, padahal ekosistem mangrove merupakan benteng alami laut. Salah satu upaya yang telah dilakukan untuk pelestarian dan pengembangan mangrove di Indramayu adalah membangun laboratorium alam mangrove di Kecamatan Losarang. Pelestarian dan pengembangan ekosistem mangrove ke depan diharapkan lebih terarah dan terpadu lagi mengingat telah terbentuk Kelompok Kerja Mangrove Daerah Jawa Barat dengan dasar peraturan Gubernur Jawa Barat.
Semakin lama kemungkinan kawasan wisata ini akan tenggelam sebagaimana salah satu kawasan wisata di Juntinyuat Kabupaten Indramayu apabila tidak ditangani secara dini. Selain faktor alamiah, terdapat beberapa penyebab kemungkinan tingginya laju abrasi dikawasan wisata tersebut. Salah satu pemicu tingginya laju abrasi di kawasan tersebut dimungkinkan karena luasan mangrove yang ada disekitarnya jauh berkurang. Hasil monitoring BPLHD pada tahun 2008 dan 2009 menunjukkan luasan mangrove sekitar kawasn wisata telah berkurang yang salah satunya dikarenakan terjadi penebangan mangrove untuk dijadikan bahan bakar.

















Anda ingin download logo Prov. Jabar.