CHANGE COLOR
  • Default color
  • Brown color
  • Green color
  • Blue color
  • Red color
CHANGE LAYOUT
  • leftlayout
  • rightlayout
SET FONT SIZE
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Customise your homepage

Green & Smile Office - BPLHD - Propinsi Jawa Barat

Home Bidang Konservasi Subid Konservasi & Pemulihan Rakernis Konservasi Raptor 2009

Rakernis Konservasi Raptor 2009

E-mail Print PDF

Rakernis Konservasi Raptor yang bertempat di Galery Ciumbuleuit Bandung diselenggarakan pada 30-31 Maret 2009 oleh BPLHD Jabar Bidang III. Acara yang mengambil tema “Pembaharuan Rencana Pengembangan Riset dan Konservasi Burung Pemangsa di Indonesia” diikuti oleh sekitar 69 peserta dari berbagai kalangan. 

Rakernis hari pertama dibuka dengan penjelasan mengenai RAIN oleh Adam Supriatna sebagai pembicara, dilanjutkan dengan penjabaran hasil simposium di Vietnam oleh Zaini Rahman dan Evaluasi Kegiatan RAIN/Catatan Perjalanan RAIN yang disampaikan oleh Pak Yayat. Selain itu, diadakan pula rapat Pleno yang dipimpin oleh Usep Suparman. Setelah pembukaan acara oleh Pak Setiawan selaku Kepala BPLHD Jabar, kegiatan hari pertama ditutup dengan Focus Group Discussion yang menghasilkan keputusan berupa pengangkatan Ketua RAIN yang baru, yaitu Gunawan.

Hari kedua rakernis konservasi raptor yang dimulai pada pukul 09.00 WIB dibuka dengan sambutan dari Ir. Tb Unun Nitibaskara. Dalam sambutannya, beliau selaku pemangku managemen otoritas memaparkan kebijakan strategis dalam konservasi, diantaranya adalah memulihkan populasi yang terancam punah baik secara eksitu maupun insitu, mengelola spesies yang terancam punah dengan dua prinsip utama yaitu prinsip tidak merusak dan prinsip kehati-hatian, mengendalikan populasi jenis dan habitat elang jawa, mempertahankan kemurnian jenis, inventarisasi jenis-jenis target dan menyempurnakan peraturan perundangan.

Selain itu, Pak Unun juga memberikan strategi konservasi raptor, yaitu memperkuat jaringan kawasan lindung, memperkuat wilayah di luar hutan lindung, menghentikan perdagangan liar raptor dan mengurangi permintaan akan raptor ini, meningkatkan pengetahuan mengenai raptor untuk pemantauan serta meningkatkan kemampuan pemerintah dan stakeholder lainnya.
Dalam sesi diskusi, beliau menjelaskan bahwa tata cara pelepasliaran telah diatur tersendiri dan sebelum dilepas harus layak dalam arti satwa sehat dengan disertai keterangan dari dokter hewan. Selain itu, menanggapi penyerahan satwa secara sukarela, beliau menyatakan ketidaksetujuannya jika tanpa disertai proses hukum yang sebelumnya meliputi penyidikan oleh aparat hukum. Namun, kasus yang berkembang tidak dapat ditindaklanjuti karena kurangnya bukti-bukti yang mendukung.
Rakernis hari kedua diisi dengan tiga (3) sesi seminar dan dua (2) workshop. Seminar sesi pertama dimoderatori oleh K Tulus dari BPLHD dengan pembicara, Dr. Ir. Bambang Supriyanto M. Sc (TN Halimun- Salak), Dr. Dewi M. Prawiladilaga (LIPI), Bidang Zoologi, Puslit Biologi-LIPI, Ir. Dewi Nur Hayati, M.Si (BPLHD), dan Usep Suparman (Raptor Conservation Society).

Dr. Ir. Bambang Supriyanto memaparkan mengenai upaya manajemen Taman Nasional dan komunitas lokal dalam konservasi elang jawa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Terdapat tiga (3) tantangan utama dalam upaya tersebut yaitu, tidak ada izin penebangan hutan karena alasan status, terdapat 314 sub villages, 19,6 % hutan terdegradasi di hutan produksi, sehingga strategi yang tepat adalah bukan law enforcement dengan banyak memasukkan orang ke dalam bui  tetapi mencoba melibatkan masyarakat sekitar dalam upaya konservasi, serta kerjasama dengan mitra cenderung masih di tahapan koordinasi, mengalami pasang surut spirit, sehingga diperlukan upaya dalam menjaga networking dengan spirit yang baik yang diimplementasikan dengan aturan yang jelas dan adanya saling menghargai antar pihak-pihak yang terkait.

Dr. Dewi M. Prawiladilaga dari LIPI menjelaskan mengenai peran lembaga penelitian dalam mendukung jejaring Raptor Indonesia diantaranya adalah melakukan kajian ilmiah, bertindak sebagai narasumber (nasional & internasional) serta memberi konsultasi teknis dalam pelepasliaran.

Sementara itu, Ir. Dewi Nur Hayati, M.Si dari BPLHD Jabar mengungkapkan kondisi terkini dan perubahan di masa yang akan datang dari wilayah Jawa Barat akibat adanya peningkatan jumlah penduduk, ketidakpastian tata guna dan pengelolaan lahan, kebijakan ekonomi dan pembangunan, dan pencemaran lingkungan yang dapat berdampak buruk dalam kegiatan konservasi raptor.

Sesi pertama seminar ditutup dengan presentasi dari Usep Suparman yang memaparkan upaya konservasi Elang Jawa dan habitatnya melaui pola pemberdayaan masyarakat di daerah penyangga di Cagar Alam Telaga Warna dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jabar.

Dalam sesi diskusi, para peserta menyoroti tentang pengelolaan konservasi di Jawa Barat yang seharusnya tidak hanya menjadi tugas BPLHD tetapi tugas bersama dari banyak pihak misalnya Dinas Pemukiman. Selain itu, apresiasi ditujukan pada BPLHD Jabar untuk penyelenggaraan Rakernis yang dipandang positif karena dapat memfasilitasi konservasi elang yang dilakukan oleh RAIN dan LSM lain. Konservasi yang mencakup pemanfaatan di kawasan konservasi agar disesuaikan dengan daya dukung lingkungan.Untuk itu, diperlukan data dan informasi yang akurat agar sinergisme BPLHD dengan kegiatan LSM dapat berjalan dengan baik.

Sebelum berlanjut pada seminar sesi kedua, terlebih dulu dilakukan workshop dengan pembicara Prof. Johan Iskandar PhD. Beliau memaparkan mengenai keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya konservasi. Menurut hasil pemantauan beliau, selama ini konservasi alam yang berkaitan erat dengan ‘value’ dan ‘behaviour’manusia, di masa lalu interaksi penduduk dan konservasi alam kurang mendapat perhatian. Pengabaian itu diakibatkan oleh kurangnya apresiasi peranan dan pengetahuan, serta pengelolaan penduduk lokal terhadap sumber daya alam dan konservasi.Masyarakat lokal umumnya dipisahkan dan tidak boleh berinteraksi dengan lingkungannya dan lingkungan hutan serta tidak mendapat keuntungan dari kawasan konservasi alam. Hal-hal tersebut menjadikan konservasi alam terhambat oleh ulah-ulah masyarakat seperti penyerobotan lahan hutan untuk dijadikan lahan kebun dan pencurian kayu. Oleh karena itu, sangat penting dilakukannya upaya penanggulangan konflik dan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan konservasi lingkungan.

Sesi kedua seminar dibuka oleh Kuswandono selaku moderator dengan empat pembicara yaitu Erwin (PPS), Dwi Nugroho (CWS), Dadang Ramdhan (RCI) dan Asman Adi (IAR). Keempat pembicara masing-masing memaparkan mengenai kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan kelompoknya dalam rangka konservasi raptor di Indonesia. Diantaranya peran PPS dalam mengelola satwa hasil konsfikasi, mendukung kinerja aparat dalam penegakkan hukum konservasi satwa liar dan pengembangan jaringan.

Seminar sesi ketiga menampilkan tiga (3) pembicara, yaitu Ma’ruf Erawan (Kanopi Indonesia), Karyadi Baskoro (Undip) dan Gunawan (IAR). Topik dalam sesi ketiga berkisar pada hasil-hasil penelitian dan pemantauan terhadap populasi raptor, diantaranya elang ular bido, serak jawa dan elang laut.

Workshop kedua diisi pembicara dari Malaysia yaitu Lim Kim Chye (Malaysia Nature Society). Dalam presentasinya, beliau menjelaskan secara rinci mengenai migrasi raptor terutama di Asia. Selain itu, diungkapkan harapan beliau mengenai kerjasama Indonesia dan Malaysia dalam pendataan dan pemantauan yang lebih terperinci untuk migrasi raptor, misalnya di daerah Sumatera yang diketahui sebagai salah satu tempat singgah raptor.

Rangkaian acara rakernis konservasi raptor ditutup oleh Ibu Rosamini dari BPLHD Jabar dengan beberapa kesimpulan yaitu perlunya mencari bentuk kampanye yang menarik kepada masyarakat, memperluas jaringan antara pemerintah dan NGO, meningkatkan kerjasama antar lembaga agar terjadi sinergisme, adanya keterbukaan dalam tukar menukar hasil riset dan pentingnya dilakukan monitoring pasar gelap raptor di Provinsi Jawa Barat.(Poppy)

 

Publikasi

BALAIKLIRING 2009   Portal Balaikliring Keanekaragaman Hayati Jabar
JARLAB 2008    Portal Jaringan Laboratorium Jawa Barat  2008
EPCM PORTAL   Website Resmi Environmental Pollution Control Manager (EPCM) Jabar 

Polls

Bagaimanakah penilaian anda terhadap user interface web BPLHD Jawa barat ini?
 

Quotes

Thank God men cannot fly, and lay waste the sky as well as the earth. 

~Henry David Thoreau

Fakta Lingkungan

OCEAN PLANET" MARINE LIFE FACTS

  • The oceans contain 99 percent of the living space on the planet.
  • Oils from the orange roughy, Hoplostethus atlanticus, a deep-sea fish from New Zealand, are used in making shampoo.
Baca Selanjutnya...

Dapatkan Logo Prov Jabar

Anda ingin download logo Prov. Jabar. Download segera!