Sepuluh persen dari seluruh spesies burung diperkirakan akan punah di akhir abad ini. Dan bersama mereka akan hilang pula layanan yang diberikan pada manusia seperti membersihkan bangkai dan menebarkan biji-biji tumbuhan.
Sebuah penelitian mengenai laju kepunahan yang memperhitungkan usaha-usaha konservasi yang dilakukan serta perubahan iklim dan lingkungan, menunjukkan bahwa setidaknya 1.200 spesies burung akan musnah tahun 2100. Ini adalah perkiraan konservatif, sehingga bisa saja kejadiannya lebih buruk, kata tim peneliti dari Universitas Stanford, California.
"Walau diperkirakan hanya 1,3 persen spesies burung telah punah sejak tahun 1500, namun jumlah individu burung di dunia telah berkurang 20 persen hingga 25 persen selama periode itu," demikian ditulis para ilmuwan dalam laporan yang dipublikasikan di Proceedings of National Academy of Sciences.
Penurunan populasi burung ini berpengaruh pada kehidupan manusia. Sebagai contoh, pada tahun 1997 terjadi 30.000 kematian orang akibat rabies di India. Ini disebabkan karena populasi anjing dan tikus meningkat tajam akibat menurunnya jumlah burung pemakan bangkai.
Adapun dalam penelitian di atas, Cagan Sekercioglu dari Stanford Center for Conservation Biology danr rekan-rekannya menganalisa 9.787 spesies burung yang masih ada dan 129 spesies yang sudah punah. Mereka mempelajari berbagai segi, seperti usaha konservasi yang dilakukan, penyebaran burung, fungsi ekologi mereka, serta sejarah kehidupan jenis tersebut.
Mereka kemudian menjalankan tiga skenario dengan program komputer yang dirancang untuk memperkirakan perubahan-perubahan pada populasi burung. Skenario pertama adalah kondisi terburuk, kedua moderat, dan ketiga dengan asumsi bahwa usaha konservasi akan bisa menyelamatkan beberapa burung agar tidak menjadi langka, namun tidak bisa mencegah jenis-jenis yang sudah terancam menjadi punah.
"Perkiraaan kami mengindikasikan bahwa pada tahun 2100, lebih dari 14 persen dari seluruh spesies burung mungkin akan punah, sementara satu dari empat ekor burung akan punah secara fungsional, artinya ia berada dalam kondisi amat terancam punah atau tidak lagi ditemukan di alam, hanya di penangkaran," kata Sekercioglu.
"Kepunahan dan penurunan populasi ini akan berakibat pada proses-proses ekosistem yang penting, terutama pada proses pembusukan bangkai (dipengaruhi oleh burung-burung pemakan bangkai), penyerbukan, dan penyebaran biji tanaman."
Sebelumnya, bulan November lalu, World Conservation Union melaporkan bahwa 12 persen dari seluruh populasi burung kini terancam punah. Bersama dengan burung, ada hampir seperempat mamalia, sepertiga amfibi, serta 42 persen kura-kura yang juga di ambang kemusnahan. (Rtr/wsn)

















Anda ingin download logo Prov. Jabar.